Israel Mengatakan Akan Melanjutkan Perang Gaza pada tahun 2024, Menolak Seruan Gencatan Senjata

2 Min Read

Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengatakan pada hari Minggu bahwa rezimnya akan memperpanjang perang di Gaza dalam tahun ini, dengan mengungkap perubahan ke arah apa yang disebutnya manajemen “cerdas” sambil menarik lima brigade cadangan dari pertempuran. Langkah ini bertujuan untuk meredakan ketegangan ekonomi sambil mempersiapkan diri menghadapi konflik yang berkepanjangan.

“Tujuan perang memerlukan pertempuran yang panjang, dan kami bersiap untuk itu,” katanya.

Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu, menyuarakan sentimen ini dalam konferensi pers hari Sabtu, memperingatkan akan adanya konflik yang berkepanjangan di masa depan.

Meskipun ada permintaan internasional untuk melakukan gencatan senjata, rezim di Tel Aviv dengan tegas menolaknya karena jumlah korban tewas di Gaza melonjak. Kementerian Kesehatan di daerah kantong tersebut melaporkan lebih dari 21.800 orang Palestina tewas dan 56.000 orang terluka parah sejak serangan tanggal 7 Oktober, dengan 85% dari 2,3 juta penduduknya mengungsi akibat kampanye pemboman Israel yang menggunakan AI.

AS, yang secara konsisten mendukung Israel, memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata. Namun, perselisihan muncul antara Washington dan Israel mengenai pemerintahan Gaza di masa depan. Netanyahu menekankan berlanjutnya kendali Israel, sementara AS mendukung pengelolaan Otoritas Palestina.

Pemerintahan Netanyahu dengan tegas menentang pembentukan negara Palestina, sebuah sikap yang jelas menghalangi perundingan damai. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mengusulkan untuk mendorong migrasi warga Palestina dari Gaza, yang bertujuan untuk membangun kembali pemukiman Yahudi yang telah dibongkar sejak tahun 2005. Smotrich menyarankan perubahan signifikan dalam wacana seputar masa depan Gaza jika 90% penduduk Arab di sana memilih untuk pergi.

Menanggapi usulan tersebut, seorang pejabat dari kantor Netanyahu membantah niatnya untuk menggusur penduduk Gaza. Namun, dokumen pemerintah yang bocor dari bulan sebelumnya mengusulkan relokasi massal penduduk Gaza ke Semenanjung Sinai di Mesir, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi warga Palestina dan Mesir.

Diterjemahkan dari situs tn.ai

Share This Article