Strategi Iran Menghadapi Israel

3 Min Read

Faktanya, Iran bahkan sudah menang sebelum perang langsung dengan Israel dengan strategi “Merebus Katak Israel” nya.

Iran tahu persis bahwa sumber daya pangan dan energi dalam negeri Israel sangat terbatas dan sangat bergantung impor.

Lahan pertanian Israel tidak akan cukup menopang kemandirian pangan.

Maka memilih untuk memperketat cengkeraman ekonominya terhadap Israel, dengan mengancam jalur pasokan pangan melalui Terusan Suez di Laut Merah, merupakan strategi utama Iran.

Itupun dilakukan secara tidak langsung, tetapi melalui proxinya Houthi, Hizbullah, Ansharallah di Suriah, Yaman dan Iraq.

Tak heran pula lokasi-lokasi strategis seperti Eilat, Haifa, dan Bandara Ben Gurion menjadi target serang Iran.

Jika Haifa ditutup bersamaan dengan Eilat, Israel hanya akan memiliki jalur darat melalui Mesir dan Jordania untuk pasokan makanan dan energi.

Bandara Internasional Ben Gurion dan bandara lainnya mungkin menjadi target berikutnya di masa depan.

Sementara Turki pun sudah memutuskan pasokan dan kerjasamanya dengan Israel akibat genosida Israel di Palestina.

Berdampak Gas Israel impor dari Azerbaizan yang dipasok lewat jalur Turki pun tersendat

Dampaknya walau Israel merasa nyaman atas kemenangan tak imbang dengan kekuatan kelompok Hamas dan warga sipil di Palestina, namun itu hanya seperti  katak yang nyaman berenang di air hangat yang makin lama airnya makin dipanaskan oleh Iran dan proxinya.

Pada akhirnya Israel terpaksa keluar atau bisa mati karena ambisinya sendiri.

Israel harus mundur teratur dari wilayah pendudukan di Palestina sesuai perjanjian 1967 atau ekonominya makin hancur karena kurang pasokan perdagangan dan energy.

Laporan berbagai media luar negeri mengungkap mata uang Syikal Israel kini sudah terjun bebas.

Demikian pula industri pariwisata Israel. Telah terpuruk dalam krisis.

Sebagian besar maskapai penerbangan besar tidak lagi berani terbang ke Israel.

Defisit anggaran dan pinjaman telah meroket.

Moody’s telah menurunkan peringkat kredit Israel dari A1 menjadi A2 pada 9 Februari 2024.

Maka kayu bakar ekonomi Israel hanya bisa bergantung pada donator Yahudi di luar negeri. Berapa lama bisa bertahan?

Berkebalikan dengan Iran yang punya sumber pangan dengan wilayah subur Persia dan energy dalam negeri mandiri.

Walau diisolasi internasional pun Iran sebagaima Rusia yang punya keuntungan geografi yang sama tetap bisa hidup dan menghidupi warga negaranya.

Kalau pun Iran saat ini harus membalas secara langsung serangan Israel atas kedutaan Iran di Damaskus, maka itupun tetap akan dilakukan secara terbatas.

Itu untuk mencegah berbaliknya simpati dunia kepada Iran (jadi) kepada lawannya, Israel.

Pada akhirnya pelajaran utama, sekali lagi bagi bangsa Indonesia, adalah Pangan dan Energi sebagai lokomotif kehidupan sebuah bangsa termasuk bangsa Indonesia tidak bisa digantungkan pada bangsa lain dalam bentuk kerjasama perdagangan atau bentuk imbal balik lain sekalipun.

Karena itu berdampak strategis pada kekuatan kedaulatan sebuah bangsa.

___________
*Adi Ketu
_published 14/04/2024

sumber: https://www.facebook.com/share/p/wsZh7c2KQpNnwJey/?mibextid=oFDknk

Share This Article