Yahya al-Sinwar, Buronan Nomor Satu Israel yang Pernah Divonis 430 Tahun Penjara

3 Min Read

POROS PERLAWANAN– Dikutip al-Alam dari al-Jazeera, Yahya al-Sinwar dibebaskan dalam pertukaran tawanan Palestina dengan Gilad Shalit pada 2011, meski sempat dijatuhi hukuman penjara selama 430 tahun. Bertahun-tahun setelah itu, ia berhasil memaksa Israel menelan kerugian militer terbesar selama sejarah pendudukan atas Palestina.

Belakangan, Benyamin Netanyahu menyebut al-Sinwar sebagai “mayat berjalan.” Namun saat ini, Netanyahu menganggapnya sebagai musuh nomor satunya. Rezim Zionis berjanji akan menghabisinya dan merancang teror atasnya.

Israel meyakini bahwa mereka telah dikelabui al-Sinwar, sebab mereka berpikir ia tidak akan berbuat apa-apa, namun ternyata ia menempatkan Rezim Zionis dalam masalah besar saat ini. Israel menyebut orang nomor satu Badai al-Aqsa ini sebagai otak Operasi 7 Oktober, atau yang dilabeli Israel sebagai “Sabtu Hitam Terkutuk.”

Menurut situs Bloomberg, foto al-Sinwar (61 tahun) bisa dilihat dengan mudah di daftar teror para pimpinan Perlawanan yang dipasang di kantor Kementerian Perang Israel.

Pemimpin Hamas di Gaza ini, yang juga dipanggil Abu Ibrahim, dikurung di penjara-penjara Israel selama 23 tahun. Israel mengeklaim mengenal baik kepribadian al-Sinwar dan cara memperlakukannya. Namun dalam wawancara dengan Financial Times, Otoritas Militer-Intelijen Israel mengakui, “penilaian keliru terhadap kepribadian al-Sinwar adalah awal kegagalan intelijen terbesar Israel.”

“Kami sama sekali tidak mengenal al-Sinwar. Pada akhirnya dia sukses mengelabui kami,” kata mantan perwira intelijen Israel, Michael Milstein kepada Financial Times.

Bloomberg melaporkan, al-Sinwar melalui para mediator berusaha meyakinkan Israel bahwa ia berniat baik. Ia juga bekerja sama dengan PNA agar memberikan izin kerja bagi sekitar 18 ribu warga Palestina untuk bekerja di Israel.

Mengutip dari Otoritas Israel, Bloomberg menyatakan bahwa sebagian dari para pekerja ini membuat peta-peta Israel dan menyusun daftar keluarga-keluarga yang tinggal di sana. Dengan cara ini, para pekerja tersebut membantu persiapan Operasi 7 Oktober.

Perlawanan Palestina mendeklarasikan slogan “Fajar Sudah Dekat” pada 25 hari sebelum Operasi Badai al-Aqsa. Ruang komando gabungan faksi-faksi Perlawanan Palestina juga melakukan latihan perang terakhirnya di Gaza pada bulan September.

Para analis Zionis mengatakan, al-Sinwar mengirim sinyal-sinyal untuk menenangkan suasana. Namun pada hakikatnya ia sedang mengulur-ulur waktu melalui cara ini.

Informasi Militer Israel menunjukkan, al-Sinwar setidaknya membutuhkan waktu satu tahun untuk merencanakan Operasi Badai al-Aqsa.

__________
Source : porosperlawanan.com

Share This Article